CIKAJANG, GARUT — Upaya pemulihan ekosistem hutan bukan hanya tentang berapa banyak bibit yang ditancapkan ke tanah, melainkan tentang seberapa konsisten kita merawat dan memastikannya tumbuh. Semangat itulah yang membawa rombongan tim bersama Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut kembali melangkah menyusuri kawasan Gunung Congkrang, Kampung Ciarileu, Desa Mekarjaya, Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut, pada Rabu (29/07/2026).
Kunjungan ini bertujuan untuk melakukan monitoring berkala terhadap bibit-bibit pohon yang telah ditanam pada 8 Februari 2025 lalu.
Merekam Jejak Pertumbuhan: Dari Tunas Kecil Hingga Daun yang Rindang
Setelah kurun waktu hampir 1,5 tahun sejak aksi penanaman pertama, lanskap Gunung Congkrang di wilayah Ciarileu mulai memperlihatkan perubahan positif. Bibit-bibit pohon yang dahulunya hanya setinggi lutut, kini sebagian besar telah bertambah tinggi dengan dedaunan hijau yang semakin lebat.
Pertumbuhan ini menjadi bukti nyata bahwa alam memiliki daya pulih yang luar biasa jika diberikan kesempatan dan ditopang oleh kepedulian manusia. Keberhasilan bibit-bibit ini bertahan melintasi pergantian musim menjadi angin segar bagi upaya menjaga ketersediaan air dan mencegah erosi di kawasan Cikajang.
Realitas Lapangan: Antara Harapan dan Tantangan
Namun, proses restorasi alam tak pernah lepas dari tantangan. Dalam giat monitoring ini, tim menemukan fakta lapangan bahwa sebagian bibit pohon yang pernah ditanam ada yang hilang dan tidak bertahan hidup.
Faktor alam, cuaca ekstrem, hingga potensi gangguan aktivitas dari tangan jahil di sekitar kawasan hilangnya sejumlah titik tanaman.
“Konservasi adalah maraton, bukan jalan cepat. Adanya pohon yang hilang atau mati adalah catatan penting bagi kami untuk mengevaluasi jenis tanaman, teknik perawatan, serta memperketat pengawasan di area ini,” ungkap salah satu perwakilan gerakan di lapangan.
Catatan ini justru mempertegas pentingnya kegiatan monitoring berkala—agar lokasi yang kosong bisa segera didata lagi dan disiapkan untuk penyulaman (penanaman kembali) pada musim tanam berikutnya.
Sinergi Bersama Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut
Kehadiran Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut dalam aksi monitoring ini mempertegas pentingnya kolaborasi lintas komunitas. Menjaga kelestarian Gunung Congkrang bukan tugas satu individu atau kelompok saja, melainkan tanggung jawab bersama seluruh lapisan masyarakat Cikajang dan Garut pada umumnya.
Melalui aksi turun ke jalan dan masuk ke hutan secara berkala ini, diharapkan kesadaran masyarakat sekitar Kampung Ciarileu untuk ikut menjaga keberadaan pohon-pohon tersebut semakin meningkat.
Komitmen yang Tak Boleh Padam
Perjalanan di Gunung Congkrang pada Rabu kemarin menjadi pengingat bahwa menanam adalah awal dari komitmen panjang. Meski ada pohon yang gugur dan hilang, ratusan pohon lainnya yang terus tumbuh adalah simbol harapan baru bagi kelestarian lingkungan Garut.
Perjuangan merawat Gunung Congkrang masih panjang, namun selama kolaborasi dan kepedulian terus dipupuk, hijau dan asrinya bumi Cikajang akan tetap terjaga untuk generasi mendatang.
