CIKAJANG – Menunggu ketidakpastian sering kali melelahkan. Hal inilah yang dirasakan oleh warga dan pengguna jalan di wilayah Desa Giriawas, Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut. Karena jalan kabupaten yang melintasi desa mereka tak kunjung diperbaiki oleh dinas terkait, warga akhirnya memutuskan untuk mengambil tindakan nyata secara mandiri.
Dipelopori oleh tokoh masyarakat serta kekompakan bapak-bapak pengurus RT dan RW Bapak RW Hendi, Bapak Gimin dan Bapak RT Dedi, Bapak Syarif maupun warga setempat, warga menggelar aksi gotong royong untuk menambal jalan yang rusak parah menggunakan dana swadaya.
Gerakan Swadaya: Dari Warga, Oleh Warga, untuk Pengguna Jalan
Aksi turun ke jalan ini dipicu oleh rasa prihatin dan keresahan yang sudah menumpuk. Jalan kabupaten yang seharusnya menjadi urat nadi perekonomian dan akses mobilitas warga kondisinya kian memprihatinkan. Lubang-lubang besar yang menganga kerap menjadi “jebakan betmen” yang membahayakan keselamatan, terutama bagi para pengendara roda dua saat malam hari atau ketika hujan turun.
Melihat kondisi yang tak kunjung mendapat perhatian dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Garut, para tokoh masyarakat berembuk dengan pengurus RT/RW. Hasilnya, mereka sepakat untuk menggalang dana secara swadaya.
- Sinergi Tokoh & RT/RW: Menggerakkan warga untuk menyumbangkan tenaga, pikiran, hingga materi secara sukarela.
- Penyediaan Material Mandiri: Hasil sumbangan warga dibelikan bahan material seperti semen, pasir, dan batu split untuk menambal titik-titik lubang paling parah.
- Gotong Royong Fisik: Bapak-bapak dan pemuda setempat turun langsung bahu-bahu membahu meratakan material dan menambal aspal yang terkelupas.
Keluhan yang Kerap Diabaikan
Jalan di Desa Giriawas ini merupakan jalur krusial yang menghubungkan aktivitas harian masyarakat Cikajang ke wilayah sekitarnya. Kerusakan yang dibiarkan berlarut-larut tidak hanya menghambat perjalanan, tetapi juga merusak kendaraan dan memicu terjadinya kecelakaan ringan hingga sedang.
“Kami sudah sering mendengar keluhan dari pengguna jalan yang melintas. Mulai dari ban bocor, velg pecah, sampai ada yang jatuh tergelincir karena menghindari lubang. Kalau terus-terusan menunggu dinas kabupaten, entah kapan jalannya akan mulus. Makanya kami berinisiatif bergerak sendiri,” ujar salah seorang tokoh masyarakat di lokasi gotong royong.
Menuntut Hak: Harapan Pengguna Jalan Akan Akses yang Layak
Meskipun aksi swadaya ini berhasil mengurangi risiko kecelakaan untuk sementara waktu, warga menyadari bahwa perbaikan ini sifatnya hanya darurat dan sementara. Tambalan semen swadaya tidak akan bertahan lama jika diguyur hujan terus-menerus dan dilewati kendaraan bermuatan berat.
Masyarakat Desa Giriawas dan para pengguna jalan yang melintas memiliki satu harapan besar yang sama kepada Pemerintah Kabupaten Garut:
- Pembangunan Permanen: Meminta dinas terkait segera turun tangan melakukan pengaspalan ulang (hotmiks) secara menyeluruh, bukan sekadar janji atau penambalan ala kadarnya.
- Pemerataan Pembangunan: Memastikan bahwa anggaran infrastruktur juga menyentuh wilayah kecamatan seperti Cikajang, bukan hanya fokus di area perkotaan Garut saja.
- Akses Layak untuk Semua: Jalan yang mulus adalah hak masyarakat sebagai pembayar pajak demi kelancaran ekonomi, pendidikan, dan kesehatan.
Aksi gotong royong di Desa Giriawas ini menjadi tamparan keras sekaligus pengingat bagi pemangku kebijakan di Kabupaten Garut. Ketika rakyat sudah mulai “patungan” untuk memperbaiki fasilitas publik, di situlah kehadiran dan komitmen pemerintah daerah dipertanyakan. Warga Cikajang hanya ingin satu hal sederhana: jalan yang layak dan aman untuk dilalui.
